Hi, Friends ! welcome to www.BeritaMantap.com. | About Us | Contact | Register | Sign In
Berita Islam Dakwah Kebesaran Allah Motivasi Cinta Pernikahan Remaja Keluarga
Berita Islam Berita Nasional Berita Dunia Berita Banua
Bisnis Syariah Bisnis Online Wirausaha Agribisnis Dollar Halal
Makanan Minuman Kue
Anime Lucu Nasyid Bola Movies Aneh
Anime Lucu Nasyid Bola Movies Aneh
Anime Lucu Nasyid Bola Movies Aneh
Anime Lucu Nasyid Bola Movies Aneh
Anime Lucu Nasyid Bola Movies Aneh
Anime Lucu Nasyid Bola Movies Aneh

Statistik Visitor

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Mengenang Sejenak Perjalanan Panjang

BeritaMantap.com - Dalam renunganku,...........
Di tengah-tengah geliat dan dinamika perjuangan yang semakin kompleks saja,..........
Terngiang-ngiang bayangan derap langkah kakiku dari saat2 awalnya kupilih jalan ini hingga saat-saat kutermenung sekarang ini,............
Terkenang sejenak akan sebuah perjalanan panjang,............

Ehm, mulanya kuanggap mudah perjalanan ini dan kulalui dengan mengalir begitu saja, bagaikan aliran air dari hulu ke hilir atau bagaikan bulu ayam yang diterbangkan angin kesana-kemari.............., Dengan idealisme khas seorang remaja kusambut hangat uluran tangan mereka yang ramah mengajaku tanpa rasa curiga sedikitpun.
Pada awalnya, aku belum memahami sepenuhnya arti perjalanan panjang ini. Begitupun arti keridloan dan perjumpaan dengan Yang Maha Agung, yang konon merupakan puncak kebahagiaan manusia.

Agaknya, kekurangpahaman akan hal ini menyebabkan banyaknya rekan seperjuanganku yang mengurungkan niat, menghentikan derap langkah mereka. Atau mereka segera merasa letih, atau memilih jalan lain yang tampaknya lebih menjanjikan kemudahan. Namun aku tiada terganggu sedikitpun. Sementara jalan dihadapanku semakin menanjak dan menyempit. Dan waktu pun terus berlalu..... aku dan yang lainnya terus melangkah, terseret-seret, tertatih-tatih, terseok-seok, dan jatuh bangun. Semakin hari semakin bertambahlah usia yang kuhabiskan di jalan ini. Dan semakin hari pula kupahami tabi'at jalan yang telah kupilih ini.


Entah sudah untuk yang keberapa kalinya lutut ini bergetar. Nafas pun mulai tersengal. Kadang kujumpai seseorg berdiri di tengah jalan. Ia tampaknya tak menyukai kehadiranku. Menatapku dengan penuh curiga, menolak ajakan yang kusampaikan, bahkan menggelariku dengan gelar-gelar yang sangat buruk. Tapi, aku harus melewati jalan ini. Dengan segenap kemampuan yang kumiliki, kuhadapi ia. Terkadang saudara-saudaraku tidak tinggal diam membiarkanku berkelahi sendirian. Mereka membantuku semampunya, meskipun aku menginginkan bantuan lebih. Aku mengerti kalau saudara-saudaraku pun memiliki urusan-urusan lain yang harus mereka selesaikan.

Entah beberapa kali sudah aku tersungkur. Orang bilang aku terlalu ringkih untuk menuntaskan seluruh perjalanan panjang ini. Tapi aku tak mau peduli sedikitpun. Masih pekat keyakinanku, DIA yang akan kujumpai disana snantiasa akan mmberikan kekuatan ghaibNYA kepadaku.
Kini dhadapanku berdiri angkuh tebing terjal. Tanahnya coklat basah. Ada jalan setapak. Di pinggirnya ada semak-semak liar, yang menatapku dengan masam. Sementara dari sudut mataku, dapat kutangkap adanya jalan lain yang jauh lebih mudah. Tak ada tanah licin yang menantiku tergelincir. Tak ada semak yang mengejek. Tak ada duri yang akan melukaiku. Tak ada lubang yang menungguku terjerembab. Jalannya pun lapang dan teduh. Tapi aku tak mau menatap jalan itu. Kupertajam tatapanku ke arah tebing angkuh tadi. Samar dapat kulihat jejak-jejak kaki orang-orang sebelumku. Namun terkadang tak kulihat jejak sama sekali.

Dan babak baru perjalanan pun kumulai. Setiap langkah harus diperhitungkan dengan cermat. Salah pijak, hampir pasti akan tergelincir. Terpaksa kuakui kalau nyali ini agak menciut. Namun kututupi sedapatnya.

Akupun terus naik,...naik,...dan naik.

Ah,...seorang saudaraku tergelincir, tepat disebelahku! Kuulurkan tangan menahan laju jatuhnya. Tapi terlalu berat. Dengan pasti aku akan turut terseret. Namun ia tak berusaha untuk turut naik. Sementara pijakanku pun smakin tak pasti. Dengan berat kuputuskan untuk melepaskan peganganku. Ia mngerti. Ia mngerti kalau aku paham bahwa keberaniannya telah luruh. Ia ingin segera menuju jembatan yang memisahkan jalan kami dengan jalan lain yang lebih mudah, lebih ramah, walau entah menuju kemana..

Bahkan sempat ku dengar kabar, terhentinya perjalanan salah seorang saudriku, yang dulu turut membimbingku melewati masa-masa awal perjalanan ini. Dan semakin banyak saja yang mengikuti jejak mereka!

Di setiap jalur yang aku tempuh, ada tempat-tempat peristirahatan sejenak. Tempatku melepaskan segala keluh kesah dan keletihan. Biasanya, DIA akan menurunkan pembantuNYA untuk menghiburku, orang-orang yang mendambakan juga perjumpaan denganNYA. Disini aku bisa menangis sejadinya. Menghimpun keberanian, guna melanjutkan langkah..

Robb..
Telah kupenuhi panggilanMU, membawa tubuh ringkih ini mlewati jalan yang KAU kehendaki. Telah kucoba melepas segenap yang aku mampu untuk mengatasi beratnya medan yang menghalang. Telah kucoba atasi, sedapatnya panas hari-hari yang kulewati.

Telah kugenggam dengan erat bara api yang panas membakar ini. Yang tak kan pernah kulepaskn sedikitpun juga.
Telah ku emban mabda' ini mesti kumerasa terasing di tengah-tengah kehidupan ini.
Bahkan telah kutajasudkan aqidah aqliyah ini, kujadikan qo'idah dan qiyadah fikriyyah, kujadikan jalan ini sebagai poros hidup.
Meskipun aku harus hancur lebur karenanya.

Tetapkan aku dalam jalan ini sepahit apapun peristiwa yang menghadang hingga aku menemuiMU, ya Robb. . . Aamiin.

Namun ampuni aku ya Allah. . . Betapa seringnya hamba tertegun ragu untuk melanjutkan perjalanan yang pnjang ini, semuanya memang dikarenakan kelemahan hati ini yang masih mencicipi kenikmatan duniawi. Kinipun hati yang peragu ini masih diguncang gundah. Akan kali KAU terima buah karya tangan lemah ini..? Akankah KAU hargai, pabila saat ini hatiku masih juga mengharapkan wajah lain selain wajahMU..? Jika masih kudamba pujian selain pujianMU..? Betapa semakin berat persangkaanku akan kesia-siaan amalanku. Jika kuingat betapa seringnya aku melakukan kelalaian..? Namun, ku yakin KAU Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha Pengampun. Karena itu, kasihilah aku.. Sayangilah aku dan ampunilah segala dosaku ini. Aamiin.


Ada ku dengar jalan lain yang jauh lebih sulit dari yang kini ku tempuh..
Orang-orang yang melewatinya adalah orang-orang perkasa dengan nyali melebihi singa.!
Mereka mempertaruhkan segalanya, harta, nyawa sekalipun.!
Merek meyakini dan merasakan, meregangnya nyawa dari jasad justru mempercepat perjumpaan mereka dengan Sang Kekasih..

Ada terpikir olehku untuk melewati pula jalan itu. Namun aku cukup arif untuk mnyadari, betapa diri ini tak layak disejajarkan dengan mereka. Siapakah aku ini dibandingkan mereka yang senantiasa bersimbah peluh dan debu untuk membuktikan kecintaan kepadaNYA..?
Betapa lancangnya aku, mengukur diri ini dengan mereka yang menghabiskan waktunya dengan da'wah dan jihad, menghabiskan malamnya dengan sujud tersungkur, mengharapkan ampunan dan cintaNYA.

Dan akupun harus bersabar. . .


Kupandangi tanah datar dihadapanku. Di salah satu sisinya ada lembah yang terus menyatu dengan kaki gunung. Perlahan kudengar gemericik air kali. Kuseret langkah kesana. Gemerisik suara dedaunan dan kerikan serangga ilalang menemani kesunyianku. . .

Hati-hati kumasukan kaki kekebeningan air. Terus menuju ke tengah-tengah arus. Kuresapi dan kunikmati kesejukannya. Kuusap wajah,. Selanjutnya,, aku telah tertunduk disebongkah batu besar di tngah-tengah kali. . .

Sejuta pikiran dan angan bersatu dibenakku. Perjalanan panjang ini telah mengantarkanku kemari. Kuharap kesunyian tempat ini dapat meneduhkan gejolak panas dibenakku.

Tapi,, sampai berapa lama lagi aku berada dalam kesunyian seperti ini..
Gunung diam dihadapanku justru mempertebal kebosananku..!
Kicauan burung yang ramai pun tak mampu menembus kekosongan hatiku..

Kulihat sekelilingku.. SEPI. . .!!!

Aku harus segera berlari,.....
berlari,.....
Dan berlari kmbali krombonganku.
Pesona tempat ini ternyata tak mampu mengobati hatiku yang sunyi.!
Aku bergabung bersama mereka. Seraya terus menetapkan langkah dan tujuan, akan sesuatu peristirahatan abadi. . .
...Akan suatu taman yang rindang. . .
Yang kaya akan aneka buah. . .
Yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. . .


ISY KARIIMAN AU MUT SYAHIIDAN...

ALLOHU AKBAR. . .!!!!!!
SUMBER:

(KISAH NYATA SANGAT MENYENTUH ), RENUNGAN BAGI CALON PENGANTIN

BeritaMantap.com - Sebuah Renungan,buat para calon suami….calon istri jg boleh baca..! Semoga Bermanfaat
terlampir kisah nyata yang bagus sekali untuk contoh kita semua yang saya dapat dari millis sebelah (kisah ini pernah ditayangkan di MetroTV). Semoga kita dapat mengambil pelajaran.

Ini cerita Nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo Suyatno, Direktur Fortis Asset Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di Indonesia.

Apa yg diutarakan beliau adalah Sangat Benar sekali.Silahkan baca dan dihayati.
Sebuah perenungan, Buat para suami baca ya…….. istri & calon istri juga boleh…
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak.

Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak keempat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja, dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum.

Untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas waktu maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang, bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa,tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu hari…ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah, sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati-hati anak yg sulung berkata,”Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu, tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……. . bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”. Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2, “sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini kami suda tidak tega melihat bapak. Kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2nya.”Anak2ku ………… Jikalau pernikahan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah…… tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian.. Sejenak kerongkongannya tersekat,… kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain? Bagaimana dengan ibumu yg masih sakit..”

Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno. Merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno….dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.. Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno, kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2.. Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio, kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.

Disitulah Pak Suyatno bercerita..”Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam pernikahannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata,dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2..Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,”

“Hidup adalah Perjuangan tanpa henti-henti … tidak usah kau tangisi hari kemarin”.
GO