Hi, Friends ! welcome to www.BeritaMantap.com. | About Us | Contact | Register | Sign In
Berita Islam Dakwah Kebesaran Allah Motivasi Cinta Pernikahan Remaja Keluarga
Berita Islam Berita Nasional Berita Dunia Berita Banua
Bisnis Syariah Bisnis Online Wirausaha Agribisnis Dollar Halal
Makanan Minuman Kue
Anime Lucu Nasyid Bola Movies Aneh
Anime Lucu Nasyid Bola Movies Aneh
Anime Lucu Nasyid Bola Movies Aneh
Anime Lucu Nasyid Bola Movies Aneh
Anime Lucu Nasyid Bola Movies Aneh
Anime Lucu Nasyid Bola Movies Aneh

Statistik Visitor

Tampilkan postingan dengan label Mualaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mualaf. Tampilkan semua postingan

Tuhan, Jika Engkau Ada, Sembuhkan Putri Saya

BeritaMantap.com - Musim dingin 1990, putri kedua Laurence Brown lahir. Tapi putrinya mengalami gangguan kesehatan yang serius, terjadi penyempitan di lengkungan pembuluh darah aortanya, sehingga peredaran darah bayinya tidak lancar. Brown menyaksikan bagaimana tubuh puteri mungilnya membiru dari bagian dada sampai ujung kaki dan harus dirawat di ruang perawatan intensif untuk bayi yang baru lahir.

Sebagai seorang dokter bedah, Brown sangat paham tindakan medis apa yang akan dilakukan dokter terhadap putrinya. Tak ada jalan lain selain melakukan pembedahan darurat di bagian dada, meski tindakan medis itu tidak memberikan peluang besar bagi puterinya untuk bertahan hidup.
Ketika konsultan ahli bedah kardio-toraks yang akan menangani putrinya datang, perasaan Brown campur aduk antara sedih dan takut. "Tidak ada teman kecuali rasa takut, dan tidak tempat untuk berbagi kesedihan sementara saya menunggu hasil pemeriksaan konsultan itu. Saya lalu pergi ke ruangan tempat berdoa di rumah sakit dan duduk bersimpuh," ujar Brown menceritakan kekalutan hatinya saat itu.

Ia mengakui, itulah kali pertama dalam hidupnya ia berdoa dengan tulus dan sungguh-sungguh. "Sebagai seorang atheis, saat itulah pertama kalinya saya, dengan setengah hati, mengakui Tuhan. Saya katakan setengah hati, bahkan dalam situasi panik itu, saya tidak sepenuhnya meyakini Tuhan. Saya cuma berdoa dengan sikap skeptis. Tuhan, jika Tuhan itu memang ada, Tuhan akan menyelamatkan putri saya, saya berjanji akan mencari dan mengikuti agama yang paling menyenangkan hati-Nya," tutur Brown.

Sekitar 10 sampai 15 menit kemudian, Brown kembali ke ruang perawatan intensif putrinya dan sangat kaget mendengar penjelasan konsultan bedah yang mengatakan bahwa putrinya akan baik-baik saja. Perkataan konsultan itu terbukti, dalam waktu dua hari, kondisi bayi perempuan Brown menunjukkan kemajuan tanpa harus diberi obat-obatan dan menjalani pembedahan. Bayi perempuan Brown yang diberi nama Hannah itu selanjutnya tumbuh dengan normal seperti anak-anak lainnya.

Setelah putrinya dinyatakan sehat, sekarang giliran Brown yang harus memenuhi janjinya di depan Tuhan, saat ia berdoa memohon keselamatan Hannah. Ia mengatakan, sebagai seorang atheis, mudah bagi Brown untuk membangun kembali ketidakpercayaannya akan eksistensi Tuhan, dan menyerahkan pemulihan putrinya pada dokter dan bukan pada Tuhan. Tapi Brown tidak melakukan itu. "Dalam perjanjian itu, Tuhan sudah menunjukkan kebaikannya, dan saya merasa juga harus melakukan hal yang sama. Tuhan sudah mengabulkan doa saya," tukas Brown.

Selama beberapa tahun Brown berusaha memenuhi "perjanjian"nya dengan Tuhan. Tapi ia merasa gagal menemukan agama ingin ia peluk. Brown mempelajari Yudaisme, beragam aliran Kristen, tapi tidak pernah merasa bahwa ia telah menemukan kebenaran. "Selama beberapa waktu, saya mendatangi berbagai gereja aliran Kristen. Yang paling lama, saya ikut jamaah gereja Katolik Roma, tapi saya tidak pernah secara resmi memeluk agama itu," tutur Brown.

Ia mengaku tidak pernah bisa memilih agama Kristen karena alasan sederhana; ia tidak bisa menemukan kesesesuaian ajaran alkitab tentang Yesus dengan ajaran dari berbagai sekte Kristen lainnya. Karena tak menemukan agama yang sesuai dengan hatinya, Brown akhirnya memilih berdiam diri di rumah dan banyak membaca. Di masa-masa itulah, Brown mengenal Al-Quran dan buku biografi Nabi Muhammad Saw. yang ditulis oleh Martin Lings, berjudul "Muhammad, His Life Based on Earliest Sources".

Dari Al-Quran yang dibacanya, Brown menemukan bahwa kitab suci umat Islam itu mengajarkan bahwa Tuhan itu hanya satu, dan nabi-nabi seperti Nabi Musa dan Yesus (Nabi Isa) juga mengajarkan tentang keesaan Tuhan. Sebuah konsep berbeda yang pernah ia tahu dalam ajaran agama Yudaisme dan Kristen yang pernah dipelajarinya bertahun-tahun. Setelah membaca buku biografi Nabi Muhammad Saw. Brown juga mulai meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir.

"Tiba-tiba saja semuanya seperti masuk akal, seiring dengan keyakinan yang tumbuh itu. Kontinuitas rantai kenabian, turunnya wahyu, hanya satu Tuhan yang Mahabesar, dan lengkapnya wahyu-wahyu Allah dalam Al-Quran, tiba-tiba menimbulkan rasa yang sempurna. Inilah yang membuat saya kemudian menjadi seorang Muslim," papar Brown.

Sampai sekarang, sudah 10 tahun Laurence Brown menjadi seorang muslim. Selama itu, ia belajar satu hal, bahwa "Di luar sana banyak orang yang lebih cerdas dan pandai dibandingkan dirinya, tapi orang-orang itu tidak mampu mengetahui kebenaran Islam," ujar Brown.

"Yang terpenting bukan seberapa pintar seseorang, tapi sebuah pencerahan seperti yang ditegaskan Allah bahwa mereka yang percaya agama Allah, tetap akan tidak percaya, meski jika diberi peringatan akan dosa jika menolak keberadaan Allah. Jika demikian, Allah juga akan mengabaikan mereka dan menjauhkan mereka dari kebenaran-Nya ..."

"Karenanya, saya bersyukur pada Allah yang telah memberi petunjuk, dan saya memperkuat petunjuk itu dengan satu formula yang sederhana; mengakui adanya Tuhan, menyembah hanya Allah semata, dengan sungguh-sungguh berjanji untuk mencari dan mengikuti kebenaran ajaran-Nya, lalu menerima hidayah-Nya," tandas Brown. (ln/oi)

Jumlah Kaum Muslim di Amerika Naik 4,1% Setiap Tahun

BeritaMantap.com - Sebuah Lembaga Penelitian “Tabah” mengumumkan pada hari Rabu (15/6) bahwa ada harapan bertambahnya jumlah kaum Muslim di Amerika sebesar 4,1% setian tahun, dan menjadi 8% dari populasi kaum Muslim di Eropa pada tahun 2030.
Lembaga Penelitian “Tabah” yang dipimpin oleh ulama Muslim terkemuka Habib al-Jafri mengatakan bahwa “Kajian tentang jumlah kaum Muslim di Amerika menunjukkan bahwa jumlah kaum Muslim terbesar ada di Amerika Serikat, kemudian disusul Kanada. Pertambahan jumlah kaum Muslim di dua benua ini mencapai 2% pada tahun 1990, lalu naik menjadi 3% selama dekade terakhir, dan pertambahannya diperkirakan akan mencapai 4,1% setiap tahun.
Dr. Brian Grimm Peneliti Senior-Director of International Data Forum, the Pew Religion and Public Life-mengatakan selama sesi seminar yang diselenggarakan oleh lembaga Taba di Abu Dhabi berkata: “50 ribu Muslim bermigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1990, pada tahun 2000 Amerika kedatangan 66 ribu Muslim, dan pada 2009 Amerika kedatangan 115 ribu Muslim.” Ia menambahkan: “Ada semakin banyak kaum Muslim yang bermigrasi ke Amerika karena kesempatan kerja yang lebih baik.”
Ia menjelaskan bahwa laporan ini merupakan bagian dari studi tentang masa depan kaum Muslim di dunia, yaitu sebuah proyek untuk mempelajari agama-agama dan dampaknya terhadap negara. Grimm menambahkan: “Laporan ini adalah laporan pertama. Dan laporan kedua berisi tentang populasi umat Kristen di dunia.”
Laporan ini memperkirakan bahwa jumlah kaum Muslim di dunia akan mengalami penurunan, ”karena kurangnya tingkat kelahiran.” Ia menambahkan bahwa jumlah kaum Muslim di Perancis, Rusia dan Jerman diperkirakan 10% dari populasi.
Laporan juga berbicara tentang kaum Muslim di wilayah-wilayah pendudukan. Laporan menjelaskan bahwa 40% dari jumlah penduduk Muslim di bawah usia 14 tahun, sementara penduduk Yahudi di bawah usia 14 tahun 25% . Sedang penduduk Muslim di atas usia 60 tahun 5%, dan 16% penduduk Yahudi di atas usia 60 tahun. Ini artinya bahwa “Jumlah kaum muda Muslim lebih banyak dari jumlah kaum muda Yahudi di wilayah-wilayah pendudukan.”
Lembaga Penelitian “Tabah” mengumumkan sehari sebelumnya yang memperkirakan bahwa pertambahan jumlah kaum Muslim di dunia sebesar 25% selama 20 tahun ke depan, dengan demikian jumlahnya naik dari 1,6 miliar Muslim pada tahun 2010 menjadi 2,2 miliar Muslim pada tahun 2030
SUMBER:

Islam Menyembuhkanku dan Mengembalikan Jiwaku

BeritaMantap.com -

Christopher Patrick Nelson, warga negara AS keturunan Irlandia, masuk Islam ketika ia berusia 26 tahun. Sebelumnya, lelaki yang menganut agama Kristen ini pernah mempelajari berbagai keyakinan mulai dari Jainisme, ajaran Budha, Hindu, untuk menyembuhkan "penyakit"nya.

Sampai akhirnya ia menemukan Islam dan memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Ia mengakui Nabi Muhammad Saw sebagai model dari sebuah kehidupan spiritual yang komprehensif, dan Islam telah menyelamatkannya dari "penyakit kejiwaan" yang dideritanya serta membuatnya merasa menemukan jiwanya yang hilang.
Sejak kecil Christopher Patrick Nelson, sudah memiliki perilaku dan emosi yang labil. Pada usia 14 tahun, ia pernah dirawat di bangsal untuk pasien yang mengalami gangguan kejiwaan, karena tingkah lakunya yang tak terkontrol. Hingga usia dewasa, Nelson kerap mengalami depresi, tidak punya gairah melakukan apapun, inginnya tidur terus, dan yang terburuk merasa ingin mati saja. Beberapa kali Nelson melakukan percobaan bunuh diri, dengan mengiris pergelangan tangganya.
Pertama, ia didiagnosis menderita "paranoid-schizophrenia", sebuah istilah dalam bidang psikiatrik ketika para ahli tidak bisa menentukan dengan pasti problem yang diderita pasiennya. Kemudian, ia dinyatakan memiliki perangai "Bipolar", perangai ganda yang ekstrim, yang saling bertolak belakang. Sejak itu, Nelson berjuang menjalani kehidupannya yang kadang mengalami perubahan suasana hati yang ekstrim.
Orang-orang di lingkungan Nelson seringkali menyalahkan dirinya atas perilakunya yang tidak dewasa, karena tidak mengerti problem kejiwaan yang dialaminya. Kondisi ini menyulitkan Nelson dalam mendapatkan pekerjaan dan membina hubungan dengan sesamanya. Ia pernah bekerja kurang dari seminggu di sebuah restoran pizza. Nelson dipecat karena perilakunya yang kurang sopan pada pelanggan.
"Depresi itu seperti neraka. Rasa ini menyelinap dalam diri saya secara diam-diam seperti hantu. Saya ingat, saya menatap ke sebuah benda, misalnya sebuah meja tempat menyajikan kopi, tiba-tiba saya akan merasa kebingunan dan merasa hidup ini tak berarti," tukas Nelson.
Untuk menyembuhkan diri, Nelson mengikuti pengobatan yang disebutnya pengobatan gaya barat, seperti meditasi dan terapi bagi para penderita gangguan psikiatrik, di sebuah klinik di San Jose. Tapi ia merasa, pengobatan macam itu hanya menolongnya sesaat, tidak menyembuhkannya.
Sampai akhirnya, ia menemukan Islam bagi "penyakit"nya , tepat di depan sebuah tempat perawatan gangguan kejiwaan. "Saya selalu merasa, di lubuk hati saya, bahwa penyakit saya berhubungan dengan sesuatu dalam jiwa saya--obat-obatan dan terapi--oleh sebab itu, tidak akan pernah bisa menyembuhkannya," kata Nelson.
Dengan memeluk Islam, ia mempelajari ajaran Islam yang menurutnya mengajarkannya untuk membersihkan jiwa dari berbagai penyakit hati. "Islam memberi saya rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri," ujarnya.
"Saya merasakan, membaca doa tertentu pada Allah sangat membantu, untuk melindungi diri saya dari gangguan setan yang bisa menjerumuskan saya. Sikap disiplin dan berdoa membantu saya untuk mengendalikan emosi dan saya yang labil ..."
"Ketika rasa gelisah dan depresi itu menerpa, saya merasa dikelilingi oleh puluhan polisi, yang melempari saya dan mencaci maki saya. Saya pun berdoa, mendengarkan dan meyakini kata-kata yang saya ucapkan dalam doa saya. Seketika jiwa saya kembali tenang dan merasakan kedamaian," sambung Nelson.
Ia mengakui, untuk ketenangan jiwa, tidak cukup hanya doa tapi juga dipengaruhi oleh apa yang ia makan dan dengan siapa seseorang berkumpul. Menurut Nelson, berkumpul dengan sesama saudara seiman di masjid, banyak membantunya untuk menenangkan jiwa.
"Mengalami gangguan kejiwaan adalah sebuah perjuangan seumur hidup. Tapi setelah masuk Islam, saya merasakan akhirnya bisa mengendalikan diri saya. Islam mengajarkan saya untuk memurnikan hati dan jiwa saya," tandas Nelson. (kw/PNS)
SUMBER:

Mualaf Steven Longden Kaget Temukan Fakta: Kakek Buyutnya adalah Walikota Muslim Pertama

BeritaMantap.com - MANCHESTER - Seperti banyak orang, Steven Longden mengaku identitasnya beragam, baik dalam keluarga, lingkungan, daerah, afiliasi keagamaan, pendidikan, dan hingga etnis. Namun ia kini mengaku bahagia, karena ia kini memiliki "kacamata" untuk memandangnya: keimanannya. "Budaya Islam memainkan peran penting dalam kehidupan saya sekarang," katanya.

Menjadi eksklusif? Steven menggeleng. "Iman saya tidak mengharuskan saya untuk menghindari yang terbaik dari pengaruh budaya lain yang penting dalam hidup saya. Jadi, sebagai seorang mantan Kristen saya dapat bersukacita dalam persahabatan yang saya buat pada tahun-tahun sebelum saya menjadi Muslim," katanya.

Bahkan, ia masih datang ke gereja untuk acara-acara non-agama: pernikahan, merayakan pembaptisan anak seorang kenalan, berpidato saat pelepasan jenazah neneknya yang meninggal. "Saya diterima, dihargai sebagai Muslim, diakui sebagai orang beriman dalam Tuhan," katanya.

Selama bertahun-tahun, ia bahkan belajar bahwa mualaf kerap efektif menjembatani kesenjangan antara teman dan komunitas agama yang berbeda. "Banyak dari kita telah mengembangkan wawasan multikultural dan empati lah yang membantu untuk membawa pemahaman dan kepercayaan antara orang-orang di sekitar kita," katanya.

Ia betul-betul lahir dalam keluarga multilatar belakang. Ia berdarah Inggris, tapi besar di Afrika Timur. Sehari-hari, ia berbahasa Urdu, Swahili, dan Inggris.

Melanjutkan pendidikan ke Inggris, ia menikah dengan gadis kulit putih kelahiran Manchester.

Perjalanan spiritual lah yang menyebabkan pasangan muda ini mengenal Islam. Lama mempelajari, ia yakin Islamlah yang dicarinya. Ia bersyahadat. beruntung, keluarga besarnya mendukung, walau mereka tetap pada keyakinan mereka.

Ia mengakui, menjadi seorang Muslim tidak mudah. "Tapi Alquran memang menyebut, setiap kita pasti akan diuji," katanya.

Ia bukan tak merasakan dampak serangan 11 September yang membuat kaum Muslim menjadi bulan-bulanan di seluruh dunia. Namun ia menjalani dengan sabar. "Tapi di luar itu, setelah menganut islam saya merasakan kedamaian, terpesona dan sadar bahwa sebagai seorang Muslim di Inggris, saya merasa sebagai orang paling istimewa di dunia saat ini," katanya.

Lebih bahagia lagi, katanya, saat suatu hari sang ayah memberitahunya, kakek buyutnya adalah seorang Muslim, 92 tahun lalu. Ia menjadi Muslim pada tahun 1898, tepat pada usia 70 tahun. Ia bernama Robert Reschid Longden, kulit putih generasi pertama yang menganut Islam.

Dibesarkan dalam sekte Israel Kristen, dia naik menjadi Walikota Stalybridge pada tahun 1875. Pada 1850 dia menjadi tertarik pada urusan Kekaisaran Ottoman, yang tidak diragukan lagi, membimbingnya di jalan menuju Islam. Pada 1901 ia menjadi tangan kanan mufti Inggris, Syaikh Abdullah Quilliam, dan terlibat dalam beberapa dialog antaragama pertama di Manchester.

"Penemuan ini mengejutkan dan menempatkan konversi saya ke dalam perspektif dan telah telah menjadi sumber kebanggaan dan kenyamanan bagi keluarga saya, baik Muslim dan non-Muslim, dan masyarakat yang lebih luas. Memang, tidak akan menjadi kejutan bagi Anda, tapi ini sesuatu yang luar biasa bagi saya," ujarnya. Ada nada haru dalam ucapannya..

SUMBER:

Sebelum Menjadi Ruqaiyyah, Rosalyn Rushbrook Adalah Penulis Buku-buku Nasrani

BeritaMantap.com - LONDON - Menyebut nama Rosalyn Rushbrook, publik Inggris pasti akan segera ingat buku-buku pengetahuan dasar Kristen. Peraih gelar sarjana teologi di Hull University ini memang aktif menulis buku-buku bertema Kristen untuk penerbit beberapa arus utama. Bahkan, beberapa bukunya direkomendasikan untuk mengajaran di banyak sekolah di Inggris.

Wanita kelahiran tahun 1942 ini menikah dengan penyair George Morris Kendrick pada tahun 1964 dan kemudian memiliki dua anak. Pernikahan mereka berakhir setelah suaminya berpindah menganut agama Scientologis tahun 1986.

Akhir tahun 1986, ia menemukan hidayah. Ia menerima Islam dan mengganti namanya menjadi Ruqaiyyah.

Pada tahun 1990 ia menikah dengan seorang pria kelahiran Pakistan, Waris Maqsood Ali. Namun sembilan tahun kemudian mereka bercerai karena Waris menikahi sepupunya yang masih muda di Pakistan, demi memungkinkan status istri barunya menjadi warga Inggris.

Setelah menjadi Muslim, ia aktif menulis buku-buku keislaman. Ia menjabat sebagai Kepala Studi Keagamaan di William Gee High School, Hull, Inggris. Ia telah menulis lebih dari empat puluh buku tentang berbagai aspek agama, berkonsentrasi pada antara lain indahnya menganut Islam dan pedoman bagi para mualaf.

Banyak dari buku-bukunya diterbitkan oleh Goodword Press dari New Delhi, termasuk Living Islam, The Muslim Prayer Encyclopedia, dan buku-buku konsultasi bagi remaja. Dia pernah diundang oleh Hodder Headlines untuk menulis buku Islam dalam bab World Faiths dalam seri buku populer di seluruh dunia, Teach Yourself

Dia juga telah menciptakan program yang memungkinkan siswa untuk mempelajari Islam. Buku berjudul Islam ini diterbitkan oleh Heinemann Press pada tahun 1986 dan terus dicetak ulang, dan Do-it-Yourself Coursebook untuk menyertainya yang diterbitkan oleh IPCI. Buku ini telah digunakan secara luas di sekolah-sekolah Inggris selama lebih dari 20 tahun, dan studi DIY kini telah diambil oleh banyak orang mahasiswa, dan kelompok swasta tidak hanya di Inggris tapi di beberapa negara.

Dia ada di antara Muslim Inggris pertama yang menerima penghargaan Muslim News Awards for Excellence pada tahun 2001, dan Muhammad Iqbal Award untuk Kreativitas dalam pemikiran Islam.

Berikut petikan wawancaranya dengan BBC soal keislamannya:

Bagaimana menjadi mualaf di mata Anda?

Tak ada yang lebih mudah dari berpindah menjadi Muslim - momen ketika kita menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa Allah itu memang ada, dan seorang pria kelahiran Arab bernama Muhammad adalah utusan-Nya. Kemudian kita bersyahadat. Ini langkah pertama kita menjadi Muslim. Bertakwa, kemudian hati menjadi ihsan.

Dari segi sosial, Islam harus menjadi bagian dari gaya hidup Anda. Bagi mualaf perempuan, maka artinya ada pertaruhan besar menyangkut pembangunan kepercayaan diri. Tak hanya karena cara berbusana juga berubah -- yang pasti akan disertai perubahan sikap keluarga dan orang-orang terdekat -- juga Anda harus bersiap tak disapa seorang pria pun di masjid manapun yang Anda masuki (ia menyampaikannya dengan sedikit bercanda).

Bagimana makna menerima keyakinan Islam?

Menjadi Muslim, artinya mendapatkan keyakinan universal. Kita tak perlu berpura-pura menjadi orang Arab atau Pakistan, untuk merasa memiliki dan dimiliki oleh Islam.

Kita sekarang tahu ada Muslim di setiap tempat di dunia, dari Eskimo hingga Aborigin.

Kita mungkin mengambil nama Arab, atau kita dapat memilih untuk menjaga nama lama kita, itu tidak terlalu penting.


Ada kekecewaan setelah menjadi Muslim?

Kita telah menjadi cukup dewasa untuk menyadari bahwa tidak setiap Muslim adalah orang suci. Mereka adalah juga manusia biasa dan kebanyakan dari kita jauh dari sempurna.

Kita mungkin akan mendapatkan kekecewaan menemukan bahwa tidak setiap Muslim hidup dengan cara muslim. Tapi al ini tidak membuat kami menyerah atau menuduh mereka bagian dari kemunafikan, kita hanya melakukan yang terbaik untuk hidup kita sendiri dengan cara terbaik yang kita bisa.

Beberapa Muslim sangat spiritual dalam arti Islam benar-benar menjadi tuntunan hidupnya, sementara beberapa hanya ritualistik dalam berislam.

Tapi kami para Muslim 'pendatang' semakin merasa kita dapat mengambil tempat bersama yang lain dalam hal ini umat yang luas atau keluarga, dan selama kita melakukan yang terbaik, Allah akan memberikan balasan atas niat baik kita.

SUMBER:

Subhanallah, Gara-Gara Tilawah Al-Qur'an, Satu Keluarga Masuk Islam

BeritaMantap.com - AL-QUDS - Yayasan Pengelola Al-Aqsha (YPA) yang Suci, menyelenggarakan pernikahan antara Ghalib Samir Kiwan dan Zainab Muhammad Nuhas—keduanya dari kota Haifa—di Masjid Al-Aqsha, Sabtu (28/5).

Pernikahan mereka sengaja digelar di salah satu kiblat umat Islam tersebut untuk mendapatkan berkah dari Allah SWT. Dalam acara akad nikah ini, turut hadir keluarga kedua mempelai, dan sejumlah jamaah shalat. Ketua YPA, Jamal Rasyid, juga turut hadir dan mendokan sang pengantin.

Syekh As'ad, Imam Masjid Al-Istiqlal di Haifa bertindak sebagai penghulu. Ia mendoakan kedua mempelai agar pernikahan yang mereka jalani diberkahi Allah SWT. Ia juga berharap keduanya dapat menjalani kehidupan sebagai suami istri selama mungkin, dalam kehidupan yang penuh kebaikan dan keberkahan.

"Pernikahan di masjid ini (Aqsha) adalah pernikahan mubarak (yang diberkahi), dan tugas kita untuk memakmurkannya selama-lamanya," kata Syekh As'ad dalam khutbah nikahnya.

"Selama ini Masjid Aqsha menyelenggarakan pernikahan untuk pemuda dan pemudi Palestina, namun hari ini kedua mempelainya berasal dari Haifa, Israel. Kami meminta para pemuda dan pemudi agar menikah dengan cara penuh berkah seperti pernikahan ini," pesan As'ad.

Pernikahan Ghalib dan Zainab ini menjadi istimewa karena, sang mempelai putri adalah mualaf yang baru dua tahun lalu memeluk Islam. Kedekatan dan keterikatan Zainab dengan Islam bermula empat tahun lalu saat ia tertarik mendengar bacaan kitab suci Al-Qur'an, dan mengikuti tayangan program agama Islam di televisi satelit.

Kedua hal inilah yang mengubah jalan hidupnya dan seluruh keluarganya—kedua orang tua dan empat saudara perempuannya—secara tiba-tiba. Dua tahun lalu, mereka semua—satu keluarga—memutuskan masuk Islam dan mengucapkan dua kalimah syahadat. "Ibu saya merasa tenang jiwanya ketika mendengar bacaan (tilawah) Al-Qur'an, meskipun beragama Kristen. Demikian pula yang dirasakan oleh ayah saya," tutur Zainab.

Setelah itu, keluarga ini kian intensif mendengarkan tilawah Al-Qur'an dan mengikuti kajian-kajian keislaman yang ditayangkan di televisi kabel. Inilah yang kemudian menguatkan tekad untuk segera bersyahadat.

"Ini seperti firman Allah dalam Al-Qur'an; "Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikit pun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka azab yang besar," kata Zainab seraya mengutip surah Ali Imran ayat 176 dengan fasih.

Adapun Ghalib, dengan mata berkaca-kaca menuturkan kisah pernikahannya dengan Zainab. "Tiga pekan sebelum menikah, saya dan tunangan saya membaca surah Al-Isra' bersama-sama. Setelah itu saya berziarah ke Masjid Al-Aqsha," ujarnya.

"Dan entahlah, saya tidak tahu apa yang mendorong langkah saya untuk mendirikan shalat di Masjid Qubbatush Shahra (Kubah Emas). Setelah shalat dua rakaat, saya membaca surat Al-Isra' hingga selesai. Di sana pula kami berdoa dan bertekad untuk menikah," tutur Ghalib.

Menurut Ghalib, sebelumnya ia dan Zainab tidak mengetahui jika di Masjid Al-Aqsha juga bisa dilakukan pernikahan. Suatu ketika, usai melaksanakan shalat di Masjid Al-Istiqlal, ia langsung menemui Syekh As'ad—imam masjid—dan menyatakan keinginannya untuk menikah.
"Syekh As'ad mengatakan di Masjid Al-Aqsha juga bisa diselenggarakan pernikahan yang diurus oleh YPA. Akhirnya, kami pun menikah di sini. Rasanya seperti mimpi," kata Ghalib penuh haru.
Ketua YPA, Jamal Rasyid, mengucapkan selamat dan mendoakan pasangan suami istri ini agar mendapatkan keturunan yang saleh yang akan menegakkan Al-Aqsha dan membela kaum Muslimin. "Berbahagialah kalian berdua dengan pernikahan yang diberkahi ini. Pernikahan kalian adalah pernikahan yang baik. Dan kami doakan agar Allah menganugerahi kalian anak keturunan yang saleh dan berguna bagi umat, insya Allah," harap Jamal.


SUMBER:

Surat Terbuka Mualaf Jennifer Jeffries Tentang Makna Menjadi Muslim

BeritaMantap.com -NEW HAMSPIRE - Jennifer Jeffries adalah seorang dokter. Dia memutuskan menjadi Muslim di usia dewasa. Berikut ini surat terbukanya seperti yang dimuat di situs being.publicradio.org:
Saya adalah Muslim yang kembali; bersyahadat, masuk Islam. Saya kini tinggal di New Hampshire, sebuah kota dengan 99 persen berkulit putih, seperti saya. Sebagian besar adalah Protestan.

Masa kecil saya dihabiskan di Manchester, yang dulu kental dengan tradisi Katolik. Namun seiring waktu, kota ini menjadi kota multietnis dan agama; tak hanya Katolik, tapi juga Ortodoks, Kristen Protestan dari semua denominasi, Muslim, Yahudi, juga Budha.

Orang-orang pergi ke masjid di hari Jumat. Mereka datang dari Bosnia, Sudan, Somalia, Irak, Pakistan, Indonesia, India, Suriah, dan negara-negara lain. Saya melihat dua "versi" Muslim; mereka yang tertutup rapat, bahkan dengan cadar, dan Muslim yang masih minum dan merokok.

Sebagai seorang mualaf, pengalaman saya diwarnai oleh kehidupan saya sendiri sebagai seorang wanita terpelajar dari kota kecil di New England - dan dengan perjalanan rohani saya sendiri yang dimulai dari Protestantisme.

Menjadi Muslim berarti bagi saya mencari sebuah kedamaian batin melalui penerimaan struktural yang lembut dan konsisten bahwa saya kembali kepada Allah, fokus yang lebih besar dari keberadaan saya. Memakai jilbab mengingatkan saya untuk mempertimbangkan tindakan saya dari perspektif Islam; memuji Tuhan sepanjang hari mengingatkan saya untuk berpikir tentang banyak hadiah saya terima, termasuk karunia pelajaran, bahkan ketika mereka mungkin memiliki aspek-aspek yang tidak menyenangkan pada saat itu.

Sebagai seorang mualaf, saya datang pada Islam secara intens dan sengaja, mencerna tidak seperti yang saya mencerna Kristen sebagai seorang anak, tetapi lebih sebagai orang dewasa. Mempertanyakan dan merenungkan rincian dan implikasi yang tidak jelas bagi saya dalam pengalaman masa kecil saya; Allah. Sebagai seorang mualaf, menjadi Muslim berarti terus-menerus belajar dan bertanya: apa yang harus saya percaya? Apa yang Islam percaya? Apa yang Muslim percaya?

Menjadi Muslim, adalah perjalanan batin yang dahsyat bagi saya. Suara azan, kini terdengar bagaikan himne yang indah bagi saya. Berdiri di shaf perempuan untuk shalat berjamaah sungguh membuat merasa sama dan indah. Meluangkan waktu sepanjang hari untuk berhenti dan berpikir tentang Tuhan sebanyak lima kali memberi saya perspektif tentang betapa relatifnya kesulitan pekerjaan saya. Menghafal ayat Alquran dan mengulangnya kembali dalam salat memungkinkan saya untuk memikirkan kembali prinsip-prinsip agama dasar, dan bagaimana menerapkannya dalam hidup saya sekarang. Berdiri tegak, membungkuk, membungkuk rendah mengingatkan saya pada salam yang saya pelajari dalam yoga. Namun sungguh indah ketika menggunakan tubuh saya untuk memuji Tuhan, mengisi pengalaman saya sebagai bagian dari dunia Tuhan.

Saya juga menjadi lebih menghargai kehidupan. Menuju peternakan, mengambil domba dan menyembelihnya secara halal, mengingatkan saya pada berharganya hidup dan karunia ang memungkinkan daging untuk tiba di meja makan saya. Saya menyadari di bulan Ramadan bahwa saya bisa menghindari makanan dan minuman dari fajar sampai senja. Hal ini mengingatkan saya pada penderitaan orang lain, dan pentingnya mengendalikan tanggapan pribadi saya sendiri atas aneka kesulitan saya.

Dalam masyarakat multikultural, saya telah memiliki banyak pertanyaan tentang apa budaya dan agama yang berbeda. Juga aneka pendapat yang berbeda.

Feminisme di AS telah membuat menjadi dokter menjadi lebih mudah bagi saya daripada untuk ibu saya 30 tahun sebelumnya.
Aku melihat feminisme dengan sudut pandang yang sangat berbeda dalam perspektif Islam.

Islam mencatat bahwa suami dan istri adalah bagian yang sama. Jenis kelamin melengkapi satu sama lain, tidak meniru atau bersaing satu sama lain. Islam mendudukkan laki-laki dan perempuan dengan hak dan kewajiban yang sepadan.

Saya berharap banyak pada komunitas Muslim untuk tidak melihat dunia luar sebagai ancaman, untuk tidak melihat dirinya sebagai lebih dari korban, untuk melihat komunitas yang lebih besar sebagai saudara, bukan saingan. Saya berharap kita akan bekerja untuk memahami perspektif satu sama lain, dan memahami bagaimana perspektif kita sendiri berdampak pada orang lain. Saya meyakinkan untuk melihat kelompok-kelompok antar agama dalam komunitas saya berkumpul untuk belajar lebih banyak tentang satu sama lain, dan mengeksplorasi persamaan dan perbedaan kita bersama-sama. Saya harap saya komunitas Muslim adalah merasa menjadi bagian dari masyarakat yang prural.
SUMBER: