Hi, Friends ! welcome to www.BeritaMantap.com. | About Us | Contact | Register | Sign In
Berita Islam Dakwah Kebesaran Allah Motivasi Cinta Pernikahan Remaja Keluarga
Berita Islam Berita Nasional Berita Dunia Berita Banua
Bisnis Syariah Bisnis Online Wirausaha Agribisnis Dollar Halal
Makanan Minuman Kue
Anime Lucu Nasyid Bola Movies Aneh
Anime Lucu Nasyid Bola Movies Aneh
Anime Lucu Nasyid Bola Movies Aneh
Anime Lucu Nasyid Bola Movies Aneh
Anime Lucu Nasyid Bola Movies Aneh
Anime Lucu Nasyid Bola Movies Aneh

Statistik Visitor

Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Islam, Antara Cita Dan Fakta (2)

BeritaMantap.com - HARI ini kita menyaksikan sebuah fenomena yang menyedihkan, betapa keindahan dan kemuliaan Islam tidak menjadi magnit power (daya tarik) bagi lingkungan sosialnya? Mengapa Islam yang secara tekstual sebagai rahmat bagi seluruh alam dan ya’lu wa la yu’la ‘alaihi ini tidak dinantikan kehadirannya? Justru, Islam yang menyejukkan dan mencerahkan pikiran dan hati itu mendapatkan citra buruk (stigma negatif), menyimpan keshalihan ritual sekaligus criminal secara sosial?

Inilah sebuah pertanyaan yang memilukan hati kita sebagai seorang Muslim.
Kalau boleh menjawab dengan logika sederhana dan mudah, meminjam sebuah statemen seorang ‘alim dari Mesir, Syeikh Muhammad Abduh: "Al Islamu mahjubun bil muslimin" (keimuliaan Islam ditutupi oleh perilaku oknum orang Islam itu sendiri).

Saya yakin, pernyataan yang diucapkan 50 tahun yang silam itu tidak muncul secara spontan, tetapi melewati sebuah penelitian yang panjang. Bahwa, perilaku yang salah dalam berislam diakibatkan oleh pemahaman yang salah secara fatal tentang islam.

Kesalahan dalam memahami dinul Islam (agama Islam) berefek pada kesalahan krusial dalam mengkomunikasikan dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Saya pernah mendengar cerita ekonom Islam, Dr Syafii Antonio di salah satu forum diskusi, bahwa ayah beliau siap masuk Islam dengan beberapa persyaratan, jika orang Islam berhenti dari sikap mental jorok, menghindari korupsi, sandal aman ketika pergi ke masjid, waktu haji berhenti dari berbicara pornografi (rafats) dan meninggalkan kebiasaan senang berdebat. Kebanyakan mereka masuk Islam sebelum menyaksikan perilaku pemeluknya. Kita yakin kesalahan krusial dalam membumikan Islam karena kesalahan fundamental dalam memahami subtansi Islam itu sendiri. Bukankah kita memiliki saham yang besar dalam menodai kemurnian ajaran Islam?

Ÿوَلاَ يُنفِقُونَ نَفَقَةً صَغِيرَةً وَلاَ كَبِيرَةً وَلاَ يَقْطَعُونَ وَادِياً إِلاَّ كُتِبَ لَهُمْ لِيَجْزِيَهُمُ اللّهُ أَحْسَنَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah (9) : 121-122).

"Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan pada sesorang, maka ia memahamkannya dalam urusan agamanya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Bukankah hari ini kita menyaksikan orang yang menyatakan dirinya Nasrani yang jarang pergi ke gereja, orang islam setahun sekali ke masjid, orang Hindu yang sering absen di kuil, orang yang Yahudi yang tidak pernah menyentuh tempat ibadahnya Sinagog kecuali kepepet.

Lihatlah para ulama terdahulu sejak usia kanak-kanak sudah menghafalkan al-Quran dan isinya 30 juz. Sehingga al-Quran menjadi darah dagingnya.

Sekarang, marilah kita memotret kualitas keislaman umat Islam sekarang, bukankah hari ini kita menyaksikan orang Islam belajar islam setelah pensiun.

Bagaimana mungkin agama yang mulia ini diperjuangkan dari sisa umur dan sisa tenaga?

Pandangan yang sangat ironis belakangan ini, bukankah masjid yang semula dibangun untuk meningkatkan kualitas taqwa (ussisa littaqwa) beralih fungsi menjadi ajang kampanye kepentingan golongan tertentu. Terasa, kurang sakral lagi sebagai media untuk tawajjuh, tabattul dan taqarrub ilallah.

Kita khawatir dengan peringatan Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya, masajiduhum ‘amiratun faraghun minal huda (dilihat dari sisi bangunan masjid tersebut mentereng tapi kosong dari petunjuk). Kita tidak at home lagi untuk beribadah di dalamnya. Inilah tanda-tanda kiamat shughra.

Al-Quran Sebagai Manhaj

Jadi, al Quran diturunkan untuk diamalkan, bukan untuk menghiasi dinding-dinding tetapi untuk menghiasi kehidupan manusia secara lahir dan batin. Dengan mengamalkan isinya kehidupan manusia semakin hidup (yang bermakna), tidak sekedar hidup.

Al Quran diturunkan pula bukan untuk dibacakan kepada orang yang telah meninggal, tetapi meluruskan dan mencerahkan perjalanan kehidupan orang yang hidup. Al Quran diturunkan untuk mengatur manusia dan mengeluarkan mereka dari kegelapan ke arah cahaya. Akan tetapi sayang sekali kita sebagai umat Islam, bertolak belakang dengan al Quran.

Kita adalah ummat yang dibimbing dengan spirit Surat Asy-Syura (musyawarah), tetapi kita tidak pandai melakukan musyawarah. Kita adalah ummat yang memiliki surat Al Hadid, tetapi kita tidak pandai membuat industri besi. Kita ummat yang didorong dengan perintah iqra (bacalah), tetapi kenyataannya ummat kita adalah bangsa yang paling bodoh dan terbelakang dalam hal ilmu pengetahuan.

Kita adalah ummat yang diintrodusir untuk mengembara mencari ilmu, sekalipun ke negeri China, tetapi kita adalah ummat yang sempit pandangan dan miskin wawasan. Kita adalah ummat yang diperintahkan bertebaran di muka bumi untuk mencari karunia yang disimpan di perutnya, tetapi kita adalah ummat yang tidak pandai berniaga. Bahkan, kita terpuruk secara ekonomi. Kita dimotivasi untuk memiliki kekuatan, tetapi kita terbelakang secara militer pada saat dunia memamerkan kekuatan militernya. Jika demikian keadaannya, betapa rendahnya kedudukan al-Quran di dalam hati kita?

Agar kita menjadi orang-orang yang berorientasi al-Quran, hendaklah al-Quran menjadi penuntun dan pemandu seluruh kehidupan kita (manhaj). Sehingga al-Quran merubah kehidupan kita sebagaimana isi al0Quran – yang kini di hadapan kita yang masih otentik dan orisinil, masih gadis, meminjam istilah Muhammad Abduh – telah merombak pola pikir dan sikap mental para sahabat secara totalitas.

Marilah kita perbaiki pemahaman dan kita luruskan sikap kita yang terlanjur bengkok terhadap kitab suci, dengan ta’wid (pembiasaan membaca sejak usia dini) tilawah yang benar, tasmi’, (mendengarkan dengan merenungi isinya) tafhim (memahami), ta’lim (mengajarkan kepada orang lain), tathbiq (mengamalkan), kemudian mengajak orang lain ke jalan al-Quran tersebut.

Inilah yang dimaksud al-Quran sebagai manhaj. Mendekatkan jarak antara idealitas dan realitas. Mensinergikan antara cita-cita dan fakta di lapangan. Antara tekstual dan kontekstual. Antara pemahaman secara literal dan menerjemahkan di ranah public. Memadukan antara kualitas keilmuan dan keterampilan mengamalkannya. Antara kemampuan menyerap kandungan isinya dan mendokumentasikan dan membahasakannya di benak publik.

Karena, fiqhusy Syariah memerlukan fann (seni) tersendiri dan mengkomunikasikan di lingkungan sosial memerlukan fann (seni) yang lain (fiqhud dakwah), demikian istilah Imam Syafii.

Jadi disamping kita dituntut memahami maddatud dakwah (materi dakwah), tidak kalah pentingnya adalah menguasai maidanud dakwah (obyek dakwah). Jika kita sudah berinteraksi dengan umat, mereka tidak mempertanyakan tentang wacana kita, tetapi apa yang bisa diperankan untuk memberikan pelayanan terhadap mereka.

Yakni menjadikannya tata acuan dalam berpikir, berprilaku dan rujukan tata kelola kehidupan secara infiradi dan jama’i. Kita mustahil mendakwakan al-Quran jika kita sendiri tidak memahaminya dengan benar dan memiliki pengalaman yang unik dalam mengamalkannya. Al Quran bisa menjadi pembelamu (hujjatun laka) atau saksimu yang memberatkan (hujjatun ‘alaika) di akhirat kelak, begitu kata Rasulullah SAW.


“Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Quran kepada mereka, mereka berkata: "Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu ?" Katakanlah: "Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Quran Ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat[mendengar dan memperhatikan sambil berdiam diri] (QS. Al Araf (7) : 203-204).”

Untuk mengakhiri muhasabah usb’uiyah (intropeksi pekanan) pada momentum hari Jumat ini baiklah kita mengutip dua ayat firman Allah SWT dalam surat ash Shaf (61) dan Al Jumu’ah (62).

“Wahai orang-orang yang beriman ! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan ?. (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (QS. Ash Shaf (61) : 2-3).”

Mudah-mudahan kita mampu menjadi individu dan umat terbaik (khoirul bariyyah) sepanjang zaman.*

SUMBER:

Islam, Antara Cita Dan Fakta (1)

BeritaMantap.com - BEBERAPA waktu yang lalu, saya membaca sebuah karya tulis ilmiah yang disusun oleh seorang intelektual Mesir Syeikh Muhammad Quthub. Beliau dilahirkan dari keluarga terdidik dan agamis. Rupanya, faktor keluarga yang mengantarkan beliau memiliki reputasi yang baik di dunia Islam. Dosen pasca sarjana di Universitas Ummul Qura' itu pernah pula memperoleh hadiah nobel dunia Islam King Faishal Abdul Aziz atas karya spektakulernya setelah mengalami futur (stagnasi) dan berhasil mengkhatamkan al-Quran sebanyak 15 kali “Manhajut Tarbiyah Al-Islamiyyah Nadhariyyan Wa Tathbiqiyyan.”

Karya tulis beliau yang saya maksud berjudul “Hal Nahnu Muslimun?" (Muslimkah Kita?). Berbagai buku karangan beliau yang pernah saya baca menunjukkan bahwa beliau adalah akademisi inovatif, kreatif dan produktif, yang sangat peduli dengan nasib yang menimpa bangsanya. Beliau saudara kandung Sayid Quthub dan Hamidah Quthub.

Setelah saya bolak-balik buku tersebut, saya sedikit merenung dan lahirlah pertanyaan-pertanyaan sederhana yang cukup menggelitik, betapa berat dan strategisnya membangun citra diri sebagai muslim di tengah-tengah lingkungan social kita yang identik “sok sial”. Selanjutnya, saya bisa membuat kesimpulan yang agak mudah dipahami, sesungguhnya persepsi orang lain terhadap jati diri kita yang mewakili lingkungan strategis berbanding lurus dengan keberhasilan kita dalam membangun citra diri. Jika citra diri (gambaran mental) kita positif, orang lain mempersepsikan kita kurang lebih sama. Dan demikian pula sebaliknya.

Saya juga membaca buku komunikasi, psikologi, sejarah, sosiologi sebagai bahan perbandingan (muqaranah) dalam memperkuat kualitas komitmen (iltizam) keberagamaan saya. Menurut Stone (pakar psikologi social), sesungguhnya penampilan adalah fase transaksi social yang menegaskan identitas para partisan (pemeran-serta transaksi social tersebut). Penampilan itu, sebagaimana adanya, bisa dibedakan dengan wacana yang kita konseptualisasikan sebagai teks transaksi. Penampilan dan wacana adalah dua dimensi yang kontradiksi dari transaksi sosial.

Penampilan tampaknya bersifat lebih fundamental. Ia memungkinkan, menopang, menetapkan batas-batas, dan menyediakan ruang bagi (perwujudan) berbagai kemungkinan wacana dengan jalan memastikan kemungkinan-kemungkinan bagi diskusi yang bermakna. Satu amal lebih fasih dari seribu kata-kata (lisanul hal afshahu min lisanil maqal), meminjam sastra Arab.

Bila kita berjumpa dengan orang lain, kita segera mengkategorikan orang lain dalam satu kategori yang terdapat dalam laci memori kita. Kita akan secepatnya mengelompokkannya sebagai mahasiswa, cendikawan, petani, pedagang, atau kiai.

Kita menetapkan kategori orang itu berdasarkan deskripsi verbal, petunjuk proksemik, petunjuk kinestik, petunjuk wajah, petunjuk paralinguistic, dan petunjuk artifaktual.

Proyek Besar Peradaban Kita ?

Al-Hamdulillah wasy syukru lillah, hari ini kita kecipratan nikmat berislam. Berkat perjuangan air mata dan darah yang istiqamah dan tidak mengenal lelah pendahulu kita yang shalih (salafus shalih). Bahkan, kebanyakan mereka mengakhiri hidupnya di medan dakwah. Para wali-wali dahulu datang ke negeri ini, meninggalkan negeri dan tanah tumpah darah mereka mengarungi samudra yang tidak bertepi karena mereka yakin bahwa Islam ini adalah jalan kebenaran dan jalan keselamatan.

Di antara bukti faktualnya pada medan semantik membuktikan, kosa kata yang digunakan bangsa Indonesia adalah inhearent dengan term Islam. Islam yang datang ke Nusantara ini dengan cara damai dan mencerahkan (merubah cara pandang dengan metode yang sistematis) telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya bangsa (refleksi dari keyakinan yang dianut). Budaya senyum, sapa, supel, menghormati tamu, tepo sliro, toleran, tegas dalam prinsip, tahan uji dalam menghadapi ujian, paternalistik adalah turunan (derivasi) dari Islam.

Secara historis, Islam adalah ajaran terakhir yang menyempurnakan ajaran nabi-nabi sebelumnya dan terbukti hingga kini masih steril dari berbagai penyimpangan tangan jahil manusia, maka pemeluknya berhak menyebarkan kebenaran Islam ke seluruh penjuru dunia. Inilah konsekwensi sebagai umat terakhir dari penutup para nabi dan utusan Allah SWT.

Jadi, kewajiban jihad dakwah secara otomatis terpikul pada setiap individu muslim, dalam kedudukan apapun dan dimanapun dan kapanpun. Maka setelah kita berhasil mengirimkan para mujahid dakwah secara terjun bebas di seluruh pelosok nusantara, dilanjutkan ekspansi dakwah ke luar negeri. Ke depan perwakilan Hidayatullah di luar negeri hal yang niscaya. Sehingga kita mengembalikan ketaatan manusia hanya kepada pemilik kehidupan, Allah SWT.

Itulah sebabnya di pundak seorang muslim terpikul tanggungjkawab yang tidak ringan. Islam sudah memberikan mediator untuk mengadakan muhasabah yaumiyyah, usbu’iyah, syahriyyah, ‘amiyyah atau marrotan fil ‘umr (sekali seumur hidup), secara berkesinambungan dan radikal. Betulkah kehidupan kita secara individu, keluarga, masyarakat, baik aspek ideologi, sosial, kebudayaan, politik, keamanan merujuk keislaman yang sudah kita anut salama ini? Inilah proyek besar peradaban kita !. Menata ulang persepsi, perasaan, perilaku mereka agar selaras dengan referensi Islam itu sendiri.

Hanya saja, yang perlu menjadi catatan penting, bahwa pesan Islam tidak akan sampai kepada obyek dakwah hanya dengan ceramah-ceramah, makalah-makalah, seminar-seminar, orasi-orasi, diskusi-diskusi, diplomasi-diplomasi (katsratur riwayah). Justru, Islam sampai menerobos dinding-dinding pembatas teritorial dunia ini dengan akhlak/moralitas yang melekat dalam diri para muballigh itu sendiri. Akhlak yang mulia itu merupakan gambaran dari kekokohan iman/keyakinan.

وَقَالَ لِفِتْيَانِهِ اجْعَلُواْ بِضَاعَتَهُمْ فِي رِحَالِهِمْ لَعَلَّهُمْ يَعْرِفُونَهَا إِذَا انقَلَبُواْ إِلَى أَهْلِهِمْ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
فَلَمَّا رَجِعُوا إِلَى أَبِيهِمْ قَالُواْ يَا أَبَانَا مُنِعَ مِنَّا الْكَيْلُ فَأَرْسِلْ مَعَنَا أَخَانَا نَكْتَلْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

"Ingatlah sesungguhnya para kekasih Allah itu tidak ada ketakutan dan kesedihan hati pada mereka. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa (memelihara iman dengan akhlak) (QS. Yunus (10) : 62-63)."

Jadi, yang menjadi tantangan dakwah ke depan adalah bagaimana kita mendekatkan jarak diri kita dengan refrensi Islam itu sendiri. Setiap individu muslim adalah sebagai alat peraga dakwah. Kita dituntut menjadi al-Quran dan al-Hadits yang beroperasi secara kongkrit di jalan raya, pasar, gedung parlemen, lembaga pendidikan, tempat-tempat wisata, dan di tempat-tempat yang lain. Karena semua medan kehidupan menghajatkan untuk ditemani Islam, agar tidak membuat pemburunya kecewa. Terjangkiti oleh penyakit manusia modern, yaitu krisis makna.*

SUMBER:

Banggalah Sebagai Khairu Ummah

BeritaMantap.com - SALAH satu cara mensyukuri nikmat Allah, bahwa kita adalah Muslim adalah dengan mengamalkan ajaran Islam dengan penuh konsisten. Setiap Muslim harus menumbuhkan dan memiliki solidaritas dengan sesama Muslim yang lain. Bukan hanya untuk sesama Muslim yang berada di Indonesia saja, tapi juga bagi seluruh saudara-saudara Muslim lain di seluruh muka bumi.

Seorang Muslim tidak boleh hidup untuk dirinya sendiri sehingga tidak peduli dengan kehidupan saudara-saudaranya kaum Muslimin yang lain. Tapi setiap Muslim ketika melakukan shalat, ia mengatakan, ”Iyyaka na’budu waiyyaka nastai’in..” (Kepada-Mu lah kami menyembah dan kepada-Mu lah kami meminta pertolongan)

Dalam al-Quran, Allah menyebutkan, kaum Muslim adalah umat yang terbaik.

ُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah SWT.” (QS. Ali Imran (3) : 110).

Mengapa ayat al-Qur’an menggunakan lafazh “kami” dalam ayat tersebut, karena kita tidaklah sendiri melainkan kita adalah satu kelompok besar manusia, kita adalah satu umat. Kita adalah bagian dari seluruh umat Muslim dunia. Begitu juga Allah swt tidak menyeru dengan menggunakan lafazh “Yaa ayyyuhal mukmin” (Wahai orang beriman), melainkan dengan panggilan, “Yaa ayyuhal ladzina amanu” (Wahai orang-orang yang beriman), yakni dengan menggunakan lafadz jamak yang berarti banyak.

Oleh karena itu kaum Muslimin harus hidup bahu membahu. Jadilah engkau seperti kedua tangan, saling bergandengan (kun kalyadaini). Janganlah engkau seperti kedua teling, berdekatan jarak tetapi sesunnguhntya tidak memiliki alasan untuk akrab, dekat dan erat (walaa takun kal udzunaini).

Kaum Muslim yang kuat harus mengayomi yang lemah. Yang kaya membantu yang miskin. Karena kita adalah umat yang satu, yang saling membantu. Ukhuwah adalah pelajaran Islam yang paling penting. Ukhuwahlah yang bisa membangkitkan dan menyatukan umat saat ini. Sebab meskipun kita memiliki jumlah umat yang besar dan jumlah harta yang banyak, sumber daya alam yang melimpah, sumber daya insan yang berkualitas, tetapi ketika kita menyaksikan ukhuwah itu hilang, maka kita menjadi kelompok paling lemah/hina di antara kelompok umat manusia.

Rasulullah saw mengilustrasikan seorang Muslim dengan Muslim lainnya ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan. Dalam hadits yang lain, Rasulullah saw menjelaskan dengan merapatkan jari jemari dari dua tangannya sebagai visualisasi kedekatan, kekerabatan dan kekuatan satu sama lain dalam tubuh umat ini.

Bahkan dalam kesempatan yang lain, beliau mengatakan Muslim satu dengan Muslim yang lain ibarat satu tubuh, di mana jika satu organ tubuh sakit, maka yang lainnya akan merasakan sakit pula. Hanya dengan inilah umat Islam menjadi kuat di mata umat lainnya. Maka apa yang membuat saudara-saudara kita menangis di tempat lain, itu pun seharusnya membuat kita menangis di sini. Meskipun kita tidak bersama dengan mereka.

Bila saudara kita di belahan bumi lainnya mendapatkan kesenangan dan tertawa gembira, itu juga yang harusnya membuat kita tertawa bahagia di sini. Jauh di mata namun dekat di hati, demikian kata pepatah.

Dalam sebuah syair disebutkan, ”Sesungguhnya musibah menyatukan kita”. Saat sekarang ini kita menyaksikan begitu berat kondisi saudara-saudara kita di berbagai belahan bumi Allah swt. Lihatlah bagaimana kondisi saudara-saudara kita di Palestina, Afghanistan, Iraq, Somalia, dan berbagai tempat lainnya. Umat Islam sekarang melewati fase krisis yang sangat berat, melebihi krisis yang pernah dilewatinya dalam sejarah. Begitu banyak jiwa melayang di sana, begitu banyak darah yang mengalir di negeri-negeri itu.

Di Palestina, mereka menyulut api fitnah untuk memecah barisan perlawanan kaum Muslimin terhadap penjajah Zionis Israel. Mereka ingin pecah perang saudara, antara sesama anak bangsa Palestina. Begitu juga di Iraq, api fitnah berkobar-kobar antara pengikut Sunni dan Syiah. Padahal sebelumnya mereka bisa hidup berdampingan. Padahal, dilarang saling bunuh sesama umat Islam.

Haram bagi Hamas dan Fatahsaling menumpahkan darah di Palestina. Juga antara berbagai faksi di Iraq, Afghanistan, Checknya, China, Kashmir, di Indonesia atau di belahan dunia manapun.

Karena itulah, Muslimin di Indonesia mempunyai kewajiban untuk memainkan peran lebih besar untuk mendinginkan api konflik di dunia Islam. Indonesia negeri Muslim terbesar di dunia. Indonesia tidak memiliki masalah dengan negara-negara Islam lainnya. Maka, jika Indonesia memainkan perannya, itu akan lebih mudah didengar dan diikuti. Indonesia mempunyai kesempatan dan kekuatan untuk bertindak sebagai mediator/wasit dalam masalah konflik di berbagai negeri Islam.

Alangkah perlunya kita saat ini untuk mewujudkan peran strategis itu, sehingga kita bisa menyatukan langkah dan arah dan cita-cita besar ke depan. Hanya dengan persatuan seperti ini lah kita bisa menjadi kuat dan berwibawa serta disegani sebagai sebuah umat. Dan hanya dengan persatuan inilah kita bisa mengembalikan izzul Islam wal muslimin. Wallahu Allahu a’lam bish Shawab.*

SUMBER: